HIKAYAT
SANTRI ANGON
&
PRABU DANLING

Sabda Leluhur dari Padjajaran yang Terlupakan

"Prak Burukeun, Ulah Edan, Kudu Eling"

Segera laksanakan, jangan terlena, tetap waspada

M. Lutfi Azmi / Gugun Gunara

Prabu Danling / Santri Angon

Scroll untuk membaca
I

Pembukaan: Dari Kegelapan Lahir Cahaya

Di antara lipatan waktu yang sunyi, ketika malam menjadi guru paling kejam, ada dua nama yang terlahir bukan dari kemewahan, melainkan dari rahim penderitaan yang paling dalam.

Bukan dari istana yang megah, bukan dari takhta yang berkilau emas, tapi dari tanah Padjajaran yang basah oleh air mata, dari dada yang sesak oleh beban terlalu berat untuk dipikul seorang diri.

SANTRI ANGON dan PRABU DANLING—dua nama, satu jiwa, satu ruh yang terpecah untuk menggenggam dua dunia sekaligus: Dunia batin yang penuh pergulatan, dan dunia luar yang menuntut aksi tanpa ampun.

Ini bukan dongeng. Ini bukan mitologi yang lahir dari imajinasi pujangga tua. Ini adalah sabda leluhur yang berbisik melalui riyadoh tujuh hari, melalui keheningan yang memecah ego menjadi serpihan, melalui cahaya yang datang bukan dari matahari, melainkan dari kedalaman ruh yang hampir padam.

II

Mimpi Yang Datang Tujuh Kali

Ada rahasia yang tersimpan bertahun-tahun, sebuah misteri yang datang di masa kanak-kanak, ketika jiwa masih murni dan mata hati belum tertutup oleh debu dunia.

Tujuh kali. Tujuh kali mimpi yang sama datang mengetuk pintu kesadaran.

Di malam-malam yang sunyi ketika seorang anak tidur dengan polos, tanpa tahu bahwa ia sedang menerima pesan dari dimensi yang tidak terlihat.

Dalam mimpi itu—Ada istana kuno yang megah, arsitektur kayu dan batu yang anggun, taman luas dengan air yang mengalir jernih seperti kebijaksanaan, dan sosok di singgasana dengan aura yang begitu kuat hingga membuat jiwa bergetar.

Sosok itu menatap—wajah tidak jelas, namun tatapan itu menembus hingga ke dasar jiwa, seolah berbisik tanpa suara: "Ingatlah. Jangan lupa."

Dan dalam mimpi itu terdengar dua nama: SANTRI ANGON dan PRABU DANLING

III

Perjalanan Panjang Mencerna Makna

Bertahun-tahun berlalu. Nama-nama itu kadang muncul dalam ingatan, seperti gema jauh dari masa lalu yang tidak bisa dijelaskan.

Apa artinya Santri Angon? Siapa Prabu Danling? Mengapa mimpi itu datang tujuh kali? Apa hubungannya dengan diriku?

Tidak ada jawaban. Hanya kebingungan yang makin dalam seiring waktu berjalan.

Hidup terus bergulir—ada kesuksesan yang memabukkan, ada kejatuhan yang menghancurkan, ada malam-malam panjang yang penuh air mata, ada siang-siang yang dipenuhi perjuangan tanpa henti.

Dan dalam setiap fase itu, nama-nama itu tetap tersimpan di sudut hati, menunggu waktu yang tepat untuk diungkapkan, menunggu kematangan jiwa untuk memahami.

Butuh waktu bertahun-tahun. Butuh jatuh bangun berkali-kali. Butuh kehilangan hampir segalanya. Butuh perjalanan panjang yang melelahkan. Untuk akhirnya memahami...

Nama-nama itu bukan hanya kata-kata. Nama-nama itu adalah identitas spiritual yang telah dititipkan sejak masa kanak-kanak, menunggu pemiliknya cukup dewasa untuk menerimanya.

IV

Silaturahmi Ke Seluruh Nusantara

Ada panggilan yang tidak bisa ditolak—untuk berkeliling Nusantara, dari ujung Sumatera hingga Papua, dari pantai utara Jawa hingga pegunungan Sulawesi, mencari guru-guru yang bijaksana.

Guru-guru yang masih bernyawa:

  • Para kiai di pesantren-pesantren tua
  • Para sesepuh yang hidup di lereng gunung
  • Para pemikir yang menyembunyikan kedalaman di balik kesederhanaan
  • Para praktisi spiritual yang tidak pernah mencari panggung

Guru-guru yang sudah tanpa jasad:

  • Para wali yang makamnya masih diziarahi
  • Para leluhur yang ruhnya masih membimbing melalui mimpi dan isyarat
  • Para arwah yang hadir dalam riyadoh dan kontemplasi
  • Para pendahulu yang meninggalkan jejak kebijaksanaan dalam kitab-kitab kuning
V

Di Ujung Jurang

Ada malam yang paling gelap—lebih gelap dari semua malam yang pernah dilewati...

Ketika beban dunia terasa seperti gunung yang menimpa dada, ketika tidak ada lagi air mata yang bisa keluar karena sudah kering, ketika nafas terasa seperti silet yang merobek paru-paru.

Di malam itu, pikiran berbisik dengan sangat meyakinkan:

"Sudah cukup. Akhiri saja semua ini."

Tapi di detik terakhir—DI DETIK YANG PALING KRITIS ITU—Muncul wajah-wajah: Wajah tiga anak yang masih membutuhkan ayah, wajah para guru yang sudah mengajarkan begitu banyak dengan sabar, wajah sesepuh yang pernah berkata:"Kamu dipilih untuk ujian ini karena kamu dipercaya bisa melewatinya."

Dan terdengar suara—bukan dari telinga, tapi dari dalam hati:
"Amanahmu belum selesai."

VI

Santri Angon: Penggembala Jiwa

Santri Angon bukanlah gelar yang dipersembahkan oleh universitas ternama, bukan mahkota yang dikenakan di pesta kebanggaan, bukan sertifikat yang dipajang di dinding ruang tamu.

Santri Angon adalah pengakuan jujur—bahwa di dalam diri setiap manusia, ada kawanan nafsui liar yang mengembara tanpa arah, ada ego yang berteriak lebih keras dari akal sehat, ada ambisi yang membakar tanpa peduli siapa yang hangus.

Angon—menggembala. Bukan membunuh. Bukan melarikan diri. Tapi mengendalikan dengan penuh kasih namun tegas.

Seperti penggembala sejati di lembah yang sunyi, ia berjalan di antara kawanan hewannya, memastikan tidak ada yang tersesat ke jurang, memastikan tidak ada yang dimangsa oleh serigala keputusasaan, memastikan semua kembali ke kandang dengan selamat saat matahari terbenam.

Di dalam tradisi Islam, ini disebut Mujāhadah Nafs—perjuangan melawan diri sendiri, musuh terbesar yang tidur di dalam tubuh yang sama.

VII

Prabu Danling: Sang Pemimpin

Prabu bukan raja yang duduk di singgasana megah, menunggu pengikut membawakan piala kemuliaan.

Prabu adalah Prak Burukeun—Segera laksanakan! Eksekusi tanpa menunda!

Tapi di balik keberanian itu, ada Danling—sebuah peringatan spiritual yang dalam:

"Jangan Edan, Tapi Harus Eling"

— Sabda Leluhur Padjajaran

Edan adalah terlena, adalah lupa, adalah mabuk oleh kesuksesan sementara, adalah terhanyut dalam arus dunia yang penuh topeng palsu.

Eling adalah ingat, adalah sadar, adalah terjaga, adalah tidak pernah melupakan dari mana kita datang dan ke mana kita akan kembali.

VIII

Beban Yang Mustahil

Ada malam-malam ketika beban terasa seperti gunung, ketika tanggung jawab menumpuk seperti awan mendung yang tak kunjung reda...

Beban yang menurut logika manusia: mustahil.

Tapi di tengah kegelapan itu, ada bisikan lembut:

"Lā yukallifullāhu nafsan illā wus'ahā."

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS. Al-Baqarah: 286)

Jika beban ini ada di pundakmu, maka Ar-Rahman telah melihat kekuatan tersembunyi di dalam dirimu yang bahkan engkau sendiri tidak tahu.

"Fa inna ma'al 'usri yusrā, inna ma'al 'usri yusrā."
"Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Ash-Sharh: 5-6)

IX

Sabda Leluhur

Di hari ketujuh riyadoh, ketika tubuh lemah dan ego telah hancur berkeping-keping, ketika air mata telah mengalir sampai kering, ketika keheningan menjadi lebih nyaring dari teriakan dunia—

CAHAYA DATANG.

Cahaya yang sama dari mimpi tujuh kali di masa kanak-kanak. Bukan cahaya lampu. Bukan cahaya matahari. Tapi cahaya dari dalam—dari jantung, dari ruh, dari tempat paling dalam dari keberadaan.

Dan di dalam cahaya itu, terdengar SUARA—berbicara dalam bahasa Sunda kuno:

"PRAK BURUKEUN GEURA SADAR DAN ELING,
JANGAN EDAN TAPI HARUS ELING."

Artinya: "Segera laksanakan dengan selalu sadar dan ingat, jangan terlena tetapi harus selalu mengingat."

Penutup: Undangan Untuk Semua

Wahai jiwa yang lelah, yang merasa dunia telah menutup semua pintu, yang merasa tidak ada lagi yang percaya, yang merasa beban terlalu berat...

Ketahuilah: SANTRI ANGON & PRABU DANLING bukan cerita tentang kesempurnaan.

Ini adalah cerita tentang kejatuhan dan kebangkitan, tentang kehancuran dan rekonstruksi, tentang malam yang paling gelap sebelum fajar tiba, tentang hampir bunuh diri namun diselamatkan oleh amanah yang belum selesai.